Senin, 30 Desember 2013

Tujuan Diciptakannya Manusia


Tentu Anda tahu siapa yang menciptakan jin dan manusia kan? Ya. Ialah Allah SWT. Allah yang menciptakan semua apa yang ada di alam semeste ini. Allah menciptakan semua ini pasti dengan maksud tertentu. Tak ada yang sia-sia. Mari kita renungkan dan jawab pertanyaan-pertanyaan ini:

Apa maksud diciptakannya mata kita?
Mata diciptakan untuk melihat.
Apa maksud diciptakannya telinga?
Telinga diciptakannya untuk mendengar.
Apa maksud diciptakannya lidah?
Lidah diciptakan untuk berbicara.
Apa maksud diciptakannya tangan?
Tangan diciptakan untuk memegang.
Apa maksud diciptakannya kaki?
Kaki diciptakan untuk berjalan.
Apa maksud diciptakannya hidung?
Hidung diciptakan untuk merasakan aroma.
Apa maksud diciptakannya diri kita? 

Apa maksud diciptakaanya diri kita (manusia)?

Allah berfirman, "Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu." (QS. Adz Dzariyat : 56).

“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembali-kan kepada Kami?” (Al-Mukminun: 115).


“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (Al-Qiyamah: 36).


Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan bahwasanya Dialah yang menciptakan jin dan manusia. Dan bahwasanya hikmah dari penciptaan mereka adalah untuk mengesakan-Nya dengan ibadah dan mengingkari peribadatan kepada selain-Nya. Dan sesungguhnya diciptakannya mereka hanya untuk ibadah dan Allah akan cukupkan rezeki mereka. Dia Maha Benar janji-Nya, Maha Berkuasa kehendak-Nya karena Dia al-Qowiyyul Matin (Maha Kuat lagi Maha Kokoh).
Kita semua diciptakan Allah untuk beribadah kepadaNya. Mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, sudahkan kita beribadah kepada Allah? Sudahkan kita menggunakan hidup ini dengan sebaik-baiknya untuk beribadah kepada Allah?

Untuk apa mata kita selama ini?
Untuk apa telinga kita selama ini?
Untuk apa lidah kita selama ini?
Untuk apa tangan kita selama ini?
Kemanakan kita melangkahkan kaki kita selama ini?

"Katakanlah wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah maha mengampuni semua dosa. Sungguh Dia Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah sirilah kepada-Nya." (QS. Az-Zumar: 53-54)

Kisah Fudhail bin Iyadh

Di Semenanjung Arabia, sekitar tahun 120 H, ada seorang pemuda yang sangat terkenal di seluruh penjuru Arabia. Pemuda itu terkenal sebagai seorang perampok kelas kakap. Walaupun usianya masih sangat muda, akan tetapi, kekejamannya membuat semua orang terlihat bernyali ciut. Dalam melakukan aksinya, ia tak pernah mengenal ampun untuk korban-korbannya.

Pada suatu ketika, pemuda itu jatuh hati kepada seorang gadis yang cantik jelita. Karena pemuda itu tidak bisa menahan gejolak hatinya, pemuda itu merencanakan aksi yang jahat. Ia berencana masuk ke rumah gadis tersebut saat malam tiba. Saat semua penduduk kota sudah terlelap tidur. Malam pun tiba. Dengan mengendap-endap, pemuda itu memasuki rumah si gadis lewat jendela. Namun, belum melancarkan niat jahatnya, pemuda itu mendengar sesorang menyenandungkan sebuah ayat Al-Qur'an.
"Belum tibakah waktunya bagi orang yang beriman untuk secara khusyu' mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada meraka) dan janganlah mereka berlaku seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara meraka menjadi orang-orang yang fasik" (QS Al Hadid: 16)
Sejak kecil, pemuda itu sudah sering mendengarkan ayat Al-Qur'an. Ia tak pernah merasakan sesuatu yang istimewa dari ayat-ayat itu. Tetapi, malam itu berbeda. Entah mengapa, tatkala mendengar ayat Al-Quran tersebut tanpa sengaja, tiba-tiba terbesit penyesalan dalam hatinya. Hatinya bergetar, tatapannya kosong, lidahnya kelu dan badannya kaku seketika. Ia sungguh menyesali perbuatan yang ia lakukan selama ini. Pemuda itu pun segera keluar dari rumah sang gadis.

Di sudut kota yang sepi, ia berjalan tanpa arah. Tatapannya kosong. Pikirannya berkecambuk tak menentu. Air matanya mulai berjatuhan. Kakinya seakan kehilangan tenaga. Dengan terbata ia berbisik, "Tentu saja, wahai Pemilik jiwaku. Telah tiba waktuku untuk bertobat."

Tak ingin seorang pun tahu ia sedang terduduk sedih, pemuda itu bergegas kembali ke reruntuhan bangunan tempat ia biasa bersembunyi. Tak lama berselang, datanglah rombongan kafilah dagang dengan menggunakan kuda. Seorang dengan suara berat berkata, "Kita jalan terus." Temannya melanjutkan, "Kita jalan terus sampai pagi. Fudhail biasanya menghadang kita di tempat ini."

Perkataan para kafilah dagang itu seperti jarum yang menusuk jantung pemuda itu. Karena pemuda itulah yang sedang mereka bicarakan. Fudhail. Yaa Fudail adalah namanya. Tak seperti malam-malam sebelumnya, sebilah pedang yang selalu menemaninya tetap ia sarungkan. Getar lembut di hatinya sekali lagi muncul. Ia pun bergumam, "Aku melakukan kemaksiatan sepanjang siang dan malam. Dan tak sedikit orang yang ketakutan kepadaku. Sungguh tidaklah Allah mengantarkanku pada suara-suara itu melainkan agar aku menyudahi kejahatanku. Ya Allah, aku bertobat kepada-Mu."

Sahabat, di sisa usianya, pemuda itu memenuhi tekadnya untuk bertobat. Nama lengkapnya Fudhail bin Iyadh. Setelah bertahun-tahun berusaha mendekatkan diri kepada Allah dan memperdalam agama, ia kemudian dikenal sebagai seorang ulama besar hingga dijuluki "Abidul Haramain" yang artinya Hamba yang rajin beribadah di Mekah dan Madinah. Kaena komitmennya yang kuat menempuh hidup baru dan pengabdiannya yang luar biasa terhadap agama, namanya tetap harum sampai sekarang. Petuah=petuahnya teru dibaca oleh berjuta-juta umat islam melalui buku-buku yang mengutipnya.

Subhannallah. Itulah kisah hidup Fudhail bin Iyadh. Akankah kita mengikuti langkah Fudhail untuk bertobat kepada Allah SWT? Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita semua. Amin Ya Robbal'alamiin.

Rabu, 25 September 2013

Que Sera Sera

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

When I was young, I fell in love
I asked my sweetheart what lies ahead
Will we have rainbows, day after day
Here's what my sweetheart said.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Now I have children of my own
They ask their mother, what will I be
Will I be handsome, will I be rich
I tell them tenderly.

Que Sera, Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours, to see
Que Sera, Sera
What will be, will be.

Minggu, 28 Juli 2013

Memuliakan Istri



Pemuda : "Beh, aku capek."
Babeh    : "Capek kenape, lu, Cup? Ekspresi Lu lebey bener."
Pemuda : "Capek, Beh. Dicurigain mulu ame bini gue."
Babeh    : "haha." (cuma ketawa)
Pemuda : "Lhoo? palah diketawain. :3 "
Babeh    : "Semua akibat itu ada sebabnya, Cup."
Pemuda : "Hee? Maksud Babeh gimana, Beh?"
Babeh    : "Kalo bini lue curiga same eluu, berarti kan ada sebabnya kenapa bini lue curiga ame lu, Cup. Sekarang babeh mau nanya. Ada ngga yang elu lakuin sehingga bikin bini elu cemburu gitu?"
Pemuda : "eeem...?"
Babeh    : "Dalam berumah tangga, cup, tugas seorang istri itu taat pada suami. sedangkan tugas seorang suami itu mendidik dan memuliakan istri. Sekarang Babeh nanya lagi, udah bener belum lu dalam mendidik istri lu, Cup?"
Pemuda : "Kayaknya udah deh, Be."
Babeh    : "Aaah,, yang bener?"
Pemuda : "emmm?"
Babeh    : "Kalo memuliakan istri, Cup?"
Pemuda : "Jatah uang bulanan ngga pernah telat, Beh. Baju, sepatu, rumah, mobil, udah gue beliin semua, Beh."
Babeh    : hahaha...
Pemuda : "Lhoo, ketawa lagii.. :3 "
Babeh    : "Gini, Cup. Memuliakan istri itu bukan hanya memenuhi kebutuhannya secara materiil saja. Tapi secara rohaniah juga. Jaga perasaanya dengan cara jaga perkataanmu di depanya, jaga perilaumu baik di depan maupun di belakangnya. Inget, Cup, lelaki beristri itu harus lebih menjaga pandangan. Selain Allah, ada satu lagi yang harus kau jaga perasaanya. Ialah istrimu. Jika kau masih berikhtilat dengan wanita lain, berarti kamu belum bisa memuliakan istrimu. Apalagi sampe bersentuhan dengan yang bukan muhrim, subhanallah, Cup, kasian bener bini lu."
Pemuda : "Introspeksi ya, Beh? :("
Babeh    : "Naa itu tau, Cup."
Pemuda : "Makasih ya, Beh. Udah kasih nasihat buat Ucup."